Senin, 03 September 2012

Tunggu Aku di Ujung Pelangi


Oh, somewhere over the rainbow, blue birds fly,
And the dreams that you dreamed of,
Dreams really do come true.
********
Mentari masih berdiri dengan gagahnya, ditemani langit biru dan awan putih yang berserakan. Tapi entah mengapa, hari ini berbeda dengan hari cerah biasanya, Hujan turun entah mengapa. Mungkin, untuk meredam aksi matahari yang terus menerus memberi kehangatan, sampai hangat itu tidak lagi nyaman, atau mungkin hujan turun hanya untuk menyempurnakan hari ini. Matahari, langit biru, awan dan hujan. Atau hujan turun untuk memanggil pelangi yang lama bersembunyi. Entahlah. Dari semua pernyataan itu hanya satu yang aku setuju. Hujan turun untuk memanggil pelangi yang bersembunyi. Ya. Tentu saja. Semua itu pelengkap untukku. Pelengkap untuk mengingatmu.

Benar saja, sesaat setelah hujan pergi, lengkungan pelangi Nampak malu-malu menampakkan wujudnya. Tidak terlalu lama. Tapi waktu yang singkat itu berhasil membuat memori yang tersusun rapi terkuak kembali. Tentu saja ingatan tentang aku, kamu dan suatu tempat diujung pelangi. Ah, bukankan sudah lama sejak aku terakhir kali mengingatnya. Tidak ada salahnya untuk bergumul dengan lembaran-lembaran memori itu.
Semburat senyum mungkin sudah terukir diwajahku. Mengingatmu selalu berhasil membuatku tersenyum. Tentu saja, kamu adalah alasan tebesarku untuk tersenyum.
Aku masih ingat pertemuan pertama kita. Di depan sebuah Coffe shop saat hujan turun diantara matahari, langit biru dan awan. Kita sama-sama tidak menyukai kopi, tapi entah mengapa aroma kopi hari itu yang menyatukan kita.
“Bukan kah aneh, dihari yang cerah ini turun hujan?” Kalimat pertama yang meluncur dari bibirmu. Aku tidak yakin kau berbicara denganku. Itulah sebabnya aku tidak memilih menjawab.
“Tapi aku tidak sepenuhnya membenci hujan disaat seperti ini?” Aku menoleh kearahmu, lengkungan tipis dibibir itu yang membuat aku yakin kalau kau berbicara dengan ku. Tapi sama seperti sebelumnya. Aku tidak bergeming. Hanya sebatas senyum tipis yang bahkan tekesan terlalu dipaksakan yang aku berikan.
“Karena, setelah hujan akan muncul pelangi. Apa kau menyukai pelangi?” Kau menatap mataku saat menanyakan itu. Kau tahu, saat kau menatapku seperti itu dadaku seolah-olah akan meledak, aku bahkan tidak yakin kalau kau tidak mendengar dengup jantungku .
“Aku suka.” Hanya kalimat itu yang berhasil aku keluarkan. Diantara paragraf-paragraf panjang yang mungkin terlontar, hanya dua kata yang mampu aku ucapkan. Ada sesuatu yang berbeda dari dirimu. Aku tahu. Tapi aku tidak tahu dimana letak perbedaan itu.

Hari-hari setelah pertemuan kita, aku habiskan untuk merutuki kebodohanku. Aku bodoh, tidak berbicara banyak saat kau mengajakku berbicara. Aku bodoh karena terus menerus memikirkan wajahmu saat menatapku sambil tersenyum kala itu. Aku merasa, aku adalah orang paling bodoh yang pernah kau temui.

Takdir berkata lain, aku kembali bertemu denganmu. Disuatu tempat, jauh dari coffe shop tempat kita pertama kali bertemu. Pertemuan kedua kita, tidak seperti sebelumnya. Aku sudah bisa berbicara normal. Kembali menjadi diriku. Belakangan aku tahu namamu. Aruna Adhipraya. Raya untuk lebih singkatnya.
Dari pertemuan kedua itu, pertemuan-pertemuan kita berlanjut. Kita sering berjalan bersama menyusuri senja di tengah kota, menanti hujan turun saat langit sedang benar-benar cerah. Hanya karena kita berharap hujan bisa memanggil pelangi. Atau hanya sekedar berbagi coretan-coretan dibuku kecil milikku. Buku kecil yang kerap kali kau sebut buku sejuta mimpi. Tentu saja karena didalamnya ada banyak mimpi yang kita tulis.
Kau sering bercerita tentang mimpimu menari diujung pelangi. Kau bilang, disana aku akan melihatmu menari untuk pertama kalinya. Kau juga sering bilang, kau akan membangun rumah diujung pelangi. Membuat dunia parallelmu sendiri. Imajinasimu benar-benar luar biasa. Tidak jarang kalau aku sering bilang kau gila, Penderita schizophrenia , dan pemimpi luar biasa. Maafkan aku kalau aku sering meledekmu begitu. Tapi pada akhirnya, aku tertular virus gilamu itu. Aku juga ikut bermimpi untuk bisa tinggal diujung pelangi. Membuat dunia parallel bersama denganmu. Hanya kita berdua. Tentu saja ditemani burung berwarna-warni yang menemani kita dengan kicauan yang indah. 

Kau tahu Raya, sesaat setelah kepergianmu aku terus menerus menangis. Aku sempat mengatakan kalau aku membenci pelangi. Karena pelangi kita bertemu, tapi karena pelangi juga kau meninggalkanku. Kau meninggalkanku, meninggalkanku untuk selamanya. Tapi, kalimat terakhir yang aku dengar dari bibirmu justru kembali mengingatkanku untuk tidak membenci pelangi. 

“Aileen, Aku menunggumu disuatu tempat diujung pelangi” Kata-kata terakhir yang kau ucapkan. Aku menangis saat itu. Semua berbaur menjadi satu. Untuk pertama kalinya kau memanggil namaku dengan benar, dan untuk terakhir kalinya aku mendengar suaramu. Entahlah raya, karena kata-katamu itu aku tidak terlalu larut dari keterpurukan. Aku bangkit dengan cepat. Kembali mencintai pelangi seperti saat kau masih bersamaku.

Aku memandang keluar jendela, pelangi sudah kembali bersembunyi. Kubuka kotak begambar pelangi di meja kerjaku. Ada sebuah buku kecil yang terletak disana. Buku sejuta mimpi kita berdua. Kubuka setiap halamannya, sudah lusuh memang karena aku terlalu sering membukanya.  Ada sebuah catatan yang kau tulis sesaat sebelum kau pergi. Catatan yang selalu berhasil membuat cairan bening dan senyuman bersatu.

Suatu tempat diujung pelangi, aku dan kamu saling menautkan jemari.
Suatu tempat diujung pelangi, ada rumah yang kita bangun dengan dengan mimpi.
Suatu tempat diujung pelangi, disana aku menunggumu.

Aku meletakkan kembali buku kecilku. Tidak ada air mata seperti biasanya. Hanya senyuman yang tersisa.
“Aku mencintaimu Raya. Terimakasih telah menjadi pelangiku yang nyata.” Bisikku lembut, lalu aku tutup kembali kotak bergambar pelangi itu. Kuletakkan di tempat semula, disamping foto kami. Pelangi sudah usai, tapi ceritaku tentang aku dan pelangiku tak akan pernah usai.
“Raya tunggu aku diujung pelangi. Tunggu aku di rumah kita.”

-Aymagochi-
#30HariLagukuBercerita
“Some where Over The Rainbow- Harold Arlen”

0 comments:

Posting Komentar