Rabu, 12 Oktober 2011

Rumput di halaman rumah saya hijau lagi

0 comments
Bonjour! Ohayoo! Selamat pagi cacing, selamat pagi pohon sawo, selamat pagi abang-abang yang jual kue, selamat pagi ayam-ayam tetangga yang suka nongol tiba-tiba di rumah saya, selamat pagi anak-anak kucing yg unyu, dan selamat pagi duniaaaaa. Berjumpa lagi dengan saya Aima Mufidah cewek paling unyu sejagat swadaya 9.

Hmmfffff akhirnya udah masuk Pancaroba. Hujan udah mulai turun walaupun masih jarang-jarang. Tapi efek hujan itu memberikan dampak yang luar biasa bagi saya dan makhluk hidup sekitar. Terimakasih Allah, kami masih di beri kesempatan untuk melihat hujan turun :)))

 Setelah sekian lama panas terik, gak pernah mendung, akhirnya beberapa hari yang lalu hujan turun di daerah Bandar Lampung. Semacam, melihat kawan lama yang lama pergi. Rasanya itu nano-nano. Seneng akhirnya ketemu air, setelah berkelana di padang pasir tak beroase (?)

Waktu musim kemarau kemarin, itu musim kemarau terpanjang dan tersulit yang pernah saya alami pemirsah. Sumurnya kering, jadi kalo libur terpaksa gak mandi (oke kalo ini emang kewajiban hari libur). Kalo mau madi ngangkut air dari tetangga depan rumah. Efeknya tangan, punggung, kaki serasa mau patah. Sampe gak tergeletak di kamar berminggu-minggu. oke ini lebay. Waktu kemarau, yang jadi masalah utama ya Kekeringan. Dimana-mana gak ada air. Sampe WC kampus juga gak ada air. Yaampunn.

Tapi, Kemarau panjang  mengajarkan banyak hal luar biasa untuk saya. Saya jadi lebih sabar. Yang biasanya ngamuk-ngamuk kalo air mati. jadi belajar ngebenerin sendiri. Jadi lebih hemat, yang biasanya gak akan mandi kalo cuma ada air seember, sekarang saya bisa mandi walaupun cuma ada air segayung. Dan banyak hal lain yang saya dapet beberapa bulan belakangan ini. Semua itu karena kemarau. Dibalik kemarau ada Hikmah yang tersimpan.

Dan sekarang udah masuk Pancaroba. Pergantian musim. Hujan udah lumayan sering mengguyur daerah rumah saya. Sumur udah gak kering lagi. Air udah gak susah lagi nyarinya. Alhamdulillah :)))

Dan yang paling penting, rumput di halaman rumah saya Hijau lagi :)))

kenapa harus aymagochi?

0 comments
untuk kesekian kalinya saya ganti URL blog ini. Bukan galau sih, cuma kemarin-kemarin itu belum ada konsep yang jelas.

Saya memilih aymagochi.blogspot.com untuk URL blog saya. Bukan karena saya tergila-gila dengan tamagochi, tapi, karena berbagai macam account saya di dunia maya menggunakan username 'aymagochi' saya memilihnya untuk menggunakan sebagai URL juga. Biar konsisten gitu :p

Aymagochi sendiri punya sejarah yang tersendiri. Semacam ada kenangan masa lalu yang melekat pada istilah itu.

Pertamakali saya menggunakan istilah aymagochi, waktu saya kelas XI. Waktu itu saya baru kenal twitter. Twitter saya pertamanya di kasih username 'aimaaayaaimaaa' saya pusing sendiri kalo mau log in. Kurang a 1 aja gak bisa masuk kan. Setelah pertimbangan panjang saya putuskan untuk ganti user. Berhubung, gak punya ide, niat ganti username selalu tertunda.
Sampai saya nonton shinchan, ituloh kartun yg agak gimanaaaa gituuu. hahaha. Waktu saya nonton, pas episode Mamanya shinchan main Tamagochi. Saya jadi mikir, Tamagochi-Aymagochi. Waktu itu juga saya pengennn banget punya Tamagochi. Udah muter-muter keliling dunia, gak ketemu Tamagochi. Sampe-sampe saya cari online shop dan ternyata saya baru sadar kalo saya gak punya ATM atau sebangsanya buat transfer uang. Jadilah saya cuma gigit jari. Semacam ngidam gak kesampean. Terus ngebayangin anaknya ileran -_-

Karena saya lagi ngebet-ngebetnya sama Tamagohi, tiba-tiba cling, kenapa username gtwitternya gak ganti jadi 'Aymagochi' aja ya. Hmmmm unyu juga. Setelah pertimbangan dari berbagai pihak, akhirnya saya putuskan untuk mengganti username twitter jadi 'aymagochi'. Walaupun sempet di kata-katain sama dewi dkk. tapi Aymagochi tetep di hati. Kenapa pake 'ay' padahal nama saya 'Aima', entah lah itu juga saya bingung kenapa pake ay.

Saya datang lagi

0 comments
Udah lama gak posting blog, udah lama banget gak nulis note yg kebanyakan isinya curhat. Actually, saya kangenn banget pengen nulis.
Nulis cerita sehari-hari saya.

Akhir-akhir ini saya sibuk mikir, belajar nulis pake kata-kata puitis yg terkesan romantis, pake segala macam bahasa termasuk hiperbola. Ternyata saya gak bisa. Saya gak sepuitis yg saya kira.
Coretan-coretan dibuku saya malah terkesan gak jelas, lompat sana lompat sini. Gak sesuai alur.
Ternyata saya lebih cocok dg gaya tulisan saya yg seperti dulu. Walaupun saya juga gak tau apa namanya.

Saya lebih suka nulis apa yg saya alami hari ini. Yah seperti diary. Sayangnya saya gak punya diary. Uangnya udah abis buat jajan somay. Jadi, saya tulis aja di facebook & blog yg gratisan.

Tapi udah hampir sebulan saya gak bisa posting pemirsahhh. Paketan modemnya abis. Mau ke warnet, perjalanan jauuuh bangeett.

Dan akhirnya saya kembaliiii... dengan sejuta cerita cinta yang tersimpan jauh di dalam memori (saaahhh).
akhirnya paket modem ini berhasil di beli, dengan segenap jiwa raga, memeras keringat sampai tetes terakhir, dengan kekuatan bulan akhirnya kebeli juga.

saya kangen berlebay-lebay lewat tulisan. kangen nulis tentang apa yang saya alami hari ini. pokoknya saya kangeeennn banget sama my blog tercintah :*

o iya setelah pemikiran panjang yang melibatkan segenap jiwa raga, dan memanggil semua sisa-sisa kekuatan otak yang udah capek tiap hari di suruh mikir, saya putuskan untuk mengubah url blog ini. lalalala. labil ya? tapi ya gak papa lah, mumpung masih 18 tahun.

Hanya sebuah tulisan

0 comments
Dari sudut strategis itu aku pertama kali melihatnya. Aku lupa tanggal berapa. Seingatku hari itu, hari terpenting dalam sejarah kehidupanku. Tidak perlu aku perjelas. Karna aku tidak ingin membuatnya menjadi jelas.

Aku melihatnya sekilas. Saat itu aku sedang terdiam. Memikirkan 'apakah ini memang tempat terbaik untukku?'
aku tidak begitu memperhatikan sosok di dekatku. Aku bahkan hanya tersenyum simpul sambil menyebutkan namaku kepada semua orang yg baru kukenal saat itu.
Dari sudut mataku aku melihatnya. Dia tidak terlalu tampan, dia biasa-biasa saja. Tapi aku tau ada sesuatu yg luar biasa ada dalam dirinya. Aku tidak tau apa itu. Aku bahkan belum tau siapa namanya.

Kami tidak saling menyapa. Aku terlalu gengsi untuk menyapanya terlebih dulu. Dan dia, mungkin dia tidak melihatku. Entahlah.

Hari berlanjut, aku tidak pernah melihatnya sejak saat itu.
Dan setelah sekian lama, ternyata takdir mempertemukan kami lagi. Dalam situasi yg sama. Dalam sebuah acara yg membosankan.
Hari itu, untuk pertama kalinya dia menyapaku.

"hey. Sepertinya aku pernah melihatmu, oh iya aku ingat.." dan bla bla bla. Dia duduk di sampingku, bercerita tentang banyak hal. Ternyata dia punya hobi yg sama denganku. Menonton film. Kami sibuk bertukar informasi tentang rekomendasi film yg layak di tonton. Lalu, mengomentari acting pemainnya. Dan acara yg membosankan itu terlewati dg indahnya.

*bersambung*

Losing identity

0 comments

Losing identity

by Aima Mufidah on Friday, September 23, 2011 at 11:32pm
Saya tau kalau judulnya sama dengan judul salah satu episode Spongebob Squarepants. Ya, karena saya adalah penggemar film animasi si kepala kotak ini.

Tapi ini bukan tentang spongebob. Ini tentang Saya. Spongebob's sister.

Losing identity.
Entah kenapa, akhir2 ini saya merasa ada yg hilang dari diri saya. Saya merasa, saya tidak menjadi diri saya yg sebenarnya.

Setiap malam, atau ketika saya membuka album kenangan SMA, ada cairan yg berdesakan ingin keluar dari sudut mata saya. Jujur, saya merindukan mereka. Mereka yg ada di dalam album kenangan itu.
Saya merindukan mereka. Merindukan semua yg pernah kami lewati bersama.
Saya rindu tawa itu, saya rindu keceriaan itu, saya rindu kebersamaan itu.
Saya seperti kehilangan sebagian dari diri saya yg sebenarnya. Ketika saya tidak bisa lagi tertawa lepas dengan joke sederhana yg biasa mereka lontarkan. Ketika saya tidak bisa menceritakan apa yg saya alami dg hebohnya kepada mereka. Saya rindu masa-masa itu.
Saya merasa saya tidak menjadi diri saya sendiri. Saya yg dulu bebas berbibacara tanpa rasa malu di depan umum. Saya yg dulu sering sekali menghayal menjadi seorang Presiden dan teman-teman saya itu yg menjadi pengawalnya. Menertawakan khayalan kami. Saya rindu kelas itu. Kelas tempat kami membuat 1000 impian. Menuliskan apa yg ingin kami capai.
Saya tau, semuanya telah berlalu dan akan menjadi sebuah kenangan bagi saya, dan mungkin bagi kami semua.
Kenangan-kenangan yg berserakan, yg saya coba kumpulkan dalam memory otak saya, yg saya simpan untuk bira saya panggil lagi suatu saat nanti ketika saya ingin bernostalgia dengan kenangan-kenangan itu.

Losing identity. Mungkin ini adalah sebuah tahap pendewasaan. Ketika sikap saya sedikit demi sedikit berubah. Ketika sifat anak-anak dalam diri saya mulai memudar.
Saya mungkin merasa seperti kehilangan diri saya yg sebenarnya. Diri saya yg selalu tertawa bahagia tanpa beban, yg tidak pernah menganggap sebuah masalah perlu terselesaikan, yg tidak pernah berfikir untuk jangka panjang. Tapi kalau itu adalah sebuah proses menuju lebih baik, tidak masalah. Biarlah semuanya menghilang. Tapi 1 hal yg tidak boleh hilang, keceriaan itu. Saya siap menjadi diri saya yg baru. Hidup itu sebuah proses menuju perubahan yg lebih baik bukan?