Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 September 2012

Rahasia Air dan Api

1 comments

 “Kenapa kau membenci hujan?” pertanyaanmu memecah keheningan. Aku masih menatap keluar. Dibalik kaca yang terpasang ditoko ini aku bisa melihat hujan sedang menyapu jalan. Aku menggigit bibir bawahku. Kau sudah sering sekali mengulang pertanyaan ini.

“Karena aku membenci air.” Aku menjawab sekenanya. Kau menatapku lekat. Kau genggam tanganku, aku menatapmu. Bukan karena genggaman itu. Tapi aku bosan dengan pertanyaanmu. Aku yakin, setelah ini kau hanya terdiam. Tak ada respon lebih lanjut. Kau memang menyebalkan. Lebih suka menikmati hujan ketimbang berbicara denganku.

Benar saja. Kau tidak bergeming, hanya mempererat genggaman tanganmu. Aku merasa hangat disekujur tubuhku. Tidak kah kau tahu kalau aku suka saat seperti ini? Aku bisa melihat kau tersenyum setiap kali melihat percikan air hujan yang turun dari langit. Sebahagia itukah kau melihat hujan turun Naara? Kutelusuri wajahmu dengan tatapanku. Wajah yang teduh yang selalu berhasil menenangkanku. Garis rahang yang mempertegas ketampananmu. Dan senyum itu. Senyum yang selalu aku rindu.

Aku suka melihatmu menatap hujan. Aku suka semburat senyum yang terukir saat kau melihat hujan. Tapi itu semua tidak cukup membuat aku mencintai hujan. Mencintaimu tidak bisa dijadikan alasan untuk mencintai hujan. Entahlah.
“Kenapa kau membenci hujan? Bukankah kau suka pelangi?” Suaramu yang lembut kembali memecah keheningan. Kau masih menggenggam tanganku. Perasaan hangat itu masih menjalar disekujur tubuhku.
“Membenci hujan dan menyukai pelangi adalah hal yang berbeda. Aku membenci hujan, karena hujan yang turun terlalu banyak membuatu tidak bisa bergerak. Aku membenci hujan, karena hujan yang turun terlalu lama membuat pelangiku tak kunjung tiba. Aku membenci hujan, karena hujan membuat jarakku dengan air semakin dekat. Dan kau tahu naara, aku membenci air walaupun ada banyak hal yang bisa membuatku menyukainya. Dan aku membenci air, karena air menghalangi api menunjukkan kemegahannya.” Aku menatapmu yang masih menerawang mendengar pernyataanku. Aku bisa mendengar helaan nafasmu yang panjang. Kau menatapku. Tepat dimanik mataku. Nafasku tercekat ditatap dengan cara seperti itu. Tubuhku terbujur aku. Naara kau membuatku mati rasa.

Kau mempererat genggamanmu. Menatapku lekat. Tidak seperti Naara yang biasanya, kali ini Naara yang aku kenal seperti menanggung sebuah beban berat.
“kau tahu Agniya,  Air dan api tidak selamanya dicipkatan untuk saling terpisah. Ada kalanya air meredam api untuk melindungi api dari sesuatu yang ia ciptakan sendiri” katamu perlahan. Aku tidak bisa menangkap maksud perkataanmu. Mungkin otakku yang terlalu lamban untuk bereaksi. 

“Air dan api berbeda. Tapi perbedaan itu yang membuat mereka sempurna. Mungkin mereka tidak akan bersatu tetapi mereka bisa hidup berdampingan. Saling melengkapi untuk mengisi kekurangan. Agniya, mungkin kau tidak setuju dengan pernyataanku. Bukankah memang selalu seperti itu. Tak pernah ada sesuatu yang kita setujui tanpa melalui perdebatan?” Aku mengangguk perlahan. Sedikit banyak aku sudah bisa mencerna kata-katamu.

“Agniya, bisakah kau tidak lagi membenci hujan? Atau mungkin tidak lagi membenci air?” Baru saja aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi kau sudah megisyaratkan untuk diam.
“Kalau kau tanya mengapa, karena air mencintai api jawabannya. Tidakkah kau tahu itu? Karena air ingin selalu melindungi api yang selalu ingir berkobar. Karena air ingin melindungi api dari kecerobohan yang sering ia lakukan.Karea air ingin membuat api tidak melalukan hal bodoh yang bisa merugikan dirinya dan orang lain.” Lanjutmu. Dan pernyataan itu berhenti sampai disitu. Aku mengerjap beberapa kali, menunggu kalimat selanjutnya. Tapi tidak ada yang keluar. Kau masih menatapku penuh harap. Aku mengerjap lagi. Aku yakin seribu persen kalau api yang kau maksud dikalimat itu adalah aku dan air adalah dirimu.

Glek. Aku menelan ludahku. Tidak percaya dengan apa yang kudengar. Api dalam bahasa Sansekerta adalah Agni. Dan itu namaku.Sedangkan nama lain dari Air dalam bahasa Sansekerta adalah Naara, dan itu dirimu. Aku mengerjap lagi. Seolah ini hanya sebuah mimpi. Aku tidak terlalu yakin dengan perkataanmu. Apa pernyataan itu berarti kau ingin aku menjadi kekasihmu? Benarkah?
“Agniya, kenapa kau diam saja. Kau baik-baik saja?” Kau mengguncang-guncangkan tubuhku. Sedangkan aku masih terdiam seperti orang bodoh.
“Maksud dari kata-katamu tadi, kau ingin aku jadi kekasihmu?” Aku melontarkan kata-kata yang mungkin akan aku sesali seumur hidupku. Oh tuhan, kalau kau tidak menganggukkan kepalamu. Aku berjanji tidak akan pernah menemuimu lagi.
“Dasar bodoh. Apa aku harus memperjelas kata-kataku. Kenapa kau sangat tidak romantis Agni! Baiklah, akan aku perjelas. Apakah kau mau menjadi kekasihku?” Kau menatapku. Dari sorot matamu aku tahu kau tidak sabar mendengar jawabanku.
Aku mengangguk. Benar-benar terlihat bodoh kurasa. Sedetik kemudian, kau sudah memelukku. Berteriak sampai seluruh toko memperhatikan kita. Aku rasa, air sudah tercemar oleh kobaran api.

 #30hariLagukuBererita
Inspired by: Hujan-Utopia
 

Senin, 03 September 2012

Tunggu Aku di Ujung Pelangi

0 comments

Oh, somewhere over the rainbow, blue birds fly,
And the dreams that you dreamed of,
Dreams really do come true.
********
Mentari masih berdiri dengan gagahnya, ditemani langit biru dan awan putih yang berserakan. Tapi entah mengapa, hari ini berbeda dengan hari cerah biasanya, Hujan turun entah mengapa. Mungkin, untuk meredam aksi matahari yang terus menerus memberi kehangatan, sampai hangat itu tidak lagi nyaman, atau mungkin hujan turun hanya untuk menyempurnakan hari ini. Matahari, langit biru, awan dan hujan. Atau hujan turun untuk memanggil pelangi yang lama bersembunyi. Entahlah. Dari semua pernyataan itu hanya satu yang aku setuju. Hujan turun untuk memanggil pelangi yang bersembunyi. Ya. Tentu saja. Semua itu pelengkap untukku. Pelengkap untuk mengingatmu.

Benar saja, sesaat setelah hujan pergi, lengkungan pelangi Nampak malu-malu menampakkan wujudnya. Tidak terlalu lama. Tapi waktu yang singkat itu berhasil membuat memori yang tersusun rapi terkuak kembali. Tentu saja ingatan tentang aku, kamu dan suatu tempat diujung pelangi. Ah, bukankan sudah lama sejak aku terakhir kali mengingatnya. Tidak ada salahnya untuk bergumul dengan lembaran-lembaran memori itu.
Semburat senyum mungkin sudah terukir diwajahku. Mengingatmu selalu berhasil membuatku tersenyum. Tentu saja, kamu adalah alasan tebesarku untuk tersenyum.
Aku masih ingat pertemuan pertama kita. Di depan sebuah Coffe shop saat hujan turun diantara matahari, langit biru dan awan. Kita sama-sama tidak menyukai kopi, tapi entah mengapa aroma kopi hari itu yang menyatukan kita.
“Bukan kah aneh, dihari yang cerah ini turun hujan?” Kalimat pertama yang meluncur dari bibirmu. Aku tidak yakin kau berbicara denganku. Itulah sebabnya aku tidak memilih menjawab.
“Tapi aku tidak sepenuhnya membenci hujan disaat seperti ini?” Aku menoleh kearahmu, lengkungan tipis dibibir itu yang membuat aku yakin kalau kau berbicara dengan ku. Tapi sama seperti sebelumnya. Aku tidak bergeming. Hanya sebatas senyum tipis yang bahkan tekesan terlalu dipaksakan yang aku berikan.
“Karena, setelah hujan akan muncul pelangi. Apa kau menyukai pelangi?” Kau menatap mataku saat menanyakan itu. Kau tahu, saat kau menatapku seperti itu dadaku seolah-olah akan meledak, aku bahkan tidak yakin kalau kau tidak mendengar dengup jantungku .
“Aku suka.” Hanya kalimat itu yang berhasil aku keluarkan. Diantara paragraf-paragraf panjang yang mungkin terlontar, hanya dua kata yang mampu aku ucapkan. Ada sesuatu yang berbeda dari dirimu. Aku tahu. Tapi aku tidak tahu dimana letak perbedaan itu.

Hari-hari setelah pertemuan kita, aku habiskan untuk merutuki kebodohanku. Aku bodoh, tidak berbicara banyak saat kau mengajakku berbicara. Aku bodoh karena terus menerus memikirkan wajahmu saat menatapku sambil tersenyum kala itu. Aku merasa, aku adalah orang paling bodoh yang pernah kau temui.

Takdir berkata lain, aku kembali bertemu denganmu. Disuatu tempat, jauh dari coffe shop tempat kita pertama kali bertemu. Pertemuan kedua kita, tidak seperti sebelumnya. Aku sudah bisa berbicara normal. Kembali menjadi diriku. Belakangan aku tahu namamu. Aruna Adhipraya. Raya untuk lebih singkatnya.
Dari pertemuan kedua itu, pertemuan-pertemuan kita berlanjut. Kita sering berjalan bersama menyusuri senja di tengah kota, menanti hujan turun saat langit sedang benar-benar cerah. Hanya karena kita berharap hujan bisa memanggil pelangi. Atau hanya sekedar berbagi coretan-coretan dibuku kecil milikku. Buku kecil yang kerap kali kau sebut buku sejuta mimpi. Tentu saja karena didalamnya ada banyak mimpi yang kita tulis.
Kau sering bercerita tentang mimpimu menari diujung pelangi. Kau bilang, disana aku akan melihatmu menari untuk pertama kalinya. Kau juga sering bilang, kau akan membangun rumah diujung pelangi. Membuat dunia parallelmu sendiri. Imajinasimu benar-benar luar biasa. Tidak jarang kalau aku sering bilang kau gila, Penderita schizophrenia , dan pemimpi luar biasa. Maafkan aku kalau aku sering meledekmu begitu. Tapi pada akhirnya, aku tertular virus gilamu itu. Aku juga ikut bermimpi untuk bisa tinggal diujung pelangi. Membuat dunia parallel bersama denganmu. Hanya kita berdua. Tentu saja ditemani burung berwarna-warni yang menemani kita dengan kicauan yang indah. 

Kau tahu Raya, sesaat setelah kepergianmu aku terus menerus menangis. Aku sempat mengatakan kalau aku membenci pelangi. Karena pelangi kita bertemu, tapi karena pelangi juga kau meninggalkanku. Kau meninggalkanku, meninggalkanku untuk selamanya. Tapi, kalimat terakhir yang aku dengar dari bibirmu justru kembali mengingatkanku untuk tidak membenci pelangi. 

“Aileen, Aku menunggumu disuatu tempat diujung pelangi” Kata-kata terakhir yang kau ucapkan. Aku menangis saat itu. Semua berbaur menjadi satu. Untuk pertama kalinya kau memanggil namaku dengan benar, dan untuk terakhir kalinya aku mendengar suaramu. Entahlah raya, karena kata-katamu itu aku tidak terlalu larut dari keterpurukan. Aku bangkit dengan cepat. Kembali mencintai pelangi seperti saat kau masih bersamaku.

Aku memandang keluar jendela, pelangi sudah kembali bersembunyi. Kubuka kotak begambar pelangi di meja kerjaku. Ada sebuah buku kecil yang terletak disana. Buku sejuta mimpi kita berdua. Kubuka setiap halamannya, sudah lusuh memang karena aku terlalu sering membukanya.  Ada sebuah catatan yang kau tulis sesaat sebelum kau pergi. Catatan yang selalu berhasil membuat cairan bening dan senyuman bersatu.

Suatu tempat diujung pelangi, aku dan kamu saling menautkan jemari.
Suatu tempat diujung pelangi, ada rumah yang kita bangun dengan dengan mimpi.
Suatu tempat diujung pelangi, disana aku menunggumu.

Aku meletakkan kembali buku kecilku. Tidak ada air mata seperti biasanya. Hanya senyuman yang tersisa.
“Aku mencintaimu Raya. Terimakasih telah menjadi pelangiku yang nyata.” Bisikku lembut, lalu aku tutup kembali kotak bergambar pelangi itu. Kuletakkan di tempat semula, disamping foto kami. Pelangi sudah usai, tapi ceritaku tentang aku dan pelangiku tak akan pernah usai.
“Raya tunggu aku diujung pelangi. Tunggu aku di rumah kita.”

-Aymagochi-
#30HariLagukuBercerita
“Some where Over The Rainbow- Harold Arlen”

Jumat, 03 Februari 2012

Surat Kaleng dari Fans Nomor Satu

3 comments
Haiii apa kabar? Sudah lama tidak bertemu. Kamu pasti bingung, dari siapa surat ini berasal. Hup hup hup, nama nya surat kaleng, jadi disini saya gak mau nulis identitas saya. Kalo ada identitas lengkap ya namanya bukan surat kaleng -__-

Saya menulis surat ini khusus untuk kamu, saya kirim lewat tukang pos yang super baik hati.Pasti kamu berfikiran kalo saya ini noraknya kelewatan, jaman udah canggih tapi masih aja pake surat kaleng. Well, walaupun kamu bilang saya norak, gak apa-apa saya ikhlas kok. Saya masih tetep Fans nomer satu kamu. hehehehe

Terlepas dari basa-basi garing diatas, Saya sebenernya cuma mau tau kabar kamu. Apa kabar? Liburannya gimana?

Sudah hampir 25 hari kita gak ketemu, tapi rasanya udah 25 tahun ya. hehehe. Awalnya Saya hampir gila gegara gak liat kamu. Dan kamu perlu tau, setiap pagi saya lewat depan rumah kamu loh. Cuma mau liat kamu ada dirumah apa gak. Dan hasilnya nihil!! Kamu gak ada dirumah. Kata tetangga sebelah kamu pergi liburan yang entah ada dimana tempatnya.

Saya bukan stalker, tapi aku secreet admirer. uuuu, Saya gak tau itu tulisannya bener apa gak. Saya gak lancar bahasa inggris, Tapi saya lancar Bahasa Kalbu (apa iniii??)
Jujur, saya gak tau mau nulis apa. Terlalu banyak yang saya pingin kamu tau. Setiap pagi saya pingin banget sms kamu. Cuma buat bilang "Bonjour". Tapi selalu dan selalu hanya tersimpan di draft. Kalaupun sms itu saya kirim, Saya takut kamu bales "ini siapa?" itu lebih menyakitkan daripada kamu gak bales senyum Saya waktu kita gak sengaja ketemu.

Untuk kamu yang tersenyum disenja itu, Saya gak masalah kalo kamu gak tau siapa Saya . Apalagi tentang semua yang pernah Saya tulis disurat sebelum ini. Saya gak masalah dan gak apa-apa. Saya malah amat sangat bersyukur kalo kamu gak tau apa-apa. Saya cuma mau bilang satu hal sama kamu, Saya Fans Nomor satumu, Dan Akan tetap begitu. Saya gak akan berusaha jadi lebih dari sekedar fans, walaupun itu cuma jadi temen deket kamu. Karena Saya tau ada orang yang kamu suka. Dan Saya tau itu bukan Saya . Walaupun kamu gak pernah bilang sama siapapun, Saya tau itu. Kalo kamu tanya Saya tau dari mana, tentu saja dari facebook kamu. Kalo boleh jujur, Saya stalker didunia maya. Dan Secreet admirer didunia nyata :D

Semoga surat kaleng ini sampai  ditangan kamu. Walaupun Saya gak tau kamu sekarang ada dimana.
Dan mulai saat ini saya putuskan, saya hanya akan jadi Fans Nomor Satu kamu. Dan selamanya akan tetap begitu. Kalau takdir berkata lain, itu urusan nanti.

Tertanda Fans Nomor Satu yang tidak mau menyebutkan identitasnya.
Di taruh di dalam Kaleng Biskuit, Di lempar ke Kantor Pos Cinta.

#30harimenulissuratcinta

hari ke-21

Rabu, 01 Februari 2012

Afikaa: "Hah?! Jalukk"

0 comments
Dear afikaa..

hari ini kakak sengaja nulis surat untuk kamu.Kamu udah bisa baca kan dek? hihihihi pasti udah dong? kan kamu udah jadi bintang iklan. hihihihi.(apa hubungannya Ai??)

afikaa, kok kamu unyu banget sih, kalo ketemu aku pengen deh cubit pipi kamu, iiii gemesssss. Afika, kamu sekarang kelas berapa?

Oh iya, kakak lupa, sebelumnya kenalin dulu ya, nama kakak Aima. Kamu boleh panggil aku Kak Ai aja. Kakak salah satu big fans kamu loh. hahaha. Pertama kali kakak tau, kamu jadi bintang iklan oreo, eh kakak taunya dari temen kakak ding, waktu pensi acara Pramuka di kamous. Temen-temen kakak pada suka niruin gaya kamu. Padahal secara kenyataan, kamu imut-imut dan mereka amit-amit. hahaha (kalo pada baca maap yak, piss lop en gaul) :D

Kakak suka pas kamu ngomong, "hah?! Jalukk?" ngegemesin bangetttt sihh kamuuuu u,u

Adik kakak yang paling kecil juga suka kamu loh, namanya Alya umurnya 4 tahun. Kamu tau gak, gara-gara iklan oleo lasa jaluk, kakak hampir tiap hari beli oreo. Bukan yang rasa jeruk sih sebenernya. Soalnya kakak gak suka makanan yang ada rasa-rasa jeruknya gitu.

Kakak salut banget deh sama siapaun orang yang udah milih kamu jadi bintang iklan di iklan Oreo rasa jeruk itu.

Sekian dulu ya surat dari kakak. Kakak sih pengennya kamu baca surat kakak. Tapi kakak gak tau Twitter kamu. Kamu juga masih kecil pasti belum punya twitter. Sukses ya buat afika, semoga tawaran iklannya makin banyak. jadi kakak bisa liat kamu terus :D


Salam sayang dari kakak Aima *cubit pipi afika* :D

"Afikaaaa"
"Iyaaa"
"Ada yang baru nih"
"Apa?"
"Kamu pake ini dulu ya, udah siap belum?! Ini diaa Oreo rasa orange"
"Hah?! Jalukkk"

#30harimenulissuratcinta
hari ke-19
Pak pos sampein sama afika dong :p

Senin, 30 Januari 2012

untuk kamu yang pernah jungkir balik dari ayunan

0 comments
Dear Kiting..

Apa kabarmu hari ini? Hahhaha klasik banget ya. Yap, gak afdhol kalo pembukaan surat gak pake nanya-nanya kabar. Di buku Bahasa Indonesia aja disarankan menulis surat itu ada 3 unsur penting, pembukaan, isi dan penutup (sedikit ngajarin gak apa-apa kan ting?).

Btw, kamu masih inget aku gak? Si unyu yang pernah bikin kamu jungkir balik dari ayunan waktu kita TK dulu. hahaha. Ah, aku yakin kamu pasti masih inget aku, secara, aku yang buat kamu nangis-nangis lebay (padahal kan kamu cowok, kok kamu nagis sih?) trus kabur gitu aja. Hahahaha, lewat surat ini aku minta maaf yang sebesar-besarr nya. Maaf ya, kalo waktu itu kabur. Benar-benar gak bertanggung jawab. Tapi itu kejadiannya bertahun-tahun yang lalu loh, mmmm si unyu ini udah gak senakal dulu kok, udah gak segalak dulu. Sekarang si unyu semakin tambah unyu. hehehe. Sedikit narsis boleh kan ting?

Itu pertamakalinya aku tau kamu loh ting, berawal dari ayunan maut, trus berlanjut. Eh, gak taunya kita satu SD, trus ternyata ibuku sama ibu kamu temenan. Wah dunia ini memang sempit ya. 

Oh iya ting, aku lagi ikutan proyek #30harimenulissuratcinta nih, dan tema hari ini Surat cinta untuk cinta masa kecil (ya kira-kira begitulah temanya). Kamu pasti heran kok aku nulisnya buat kamu. Kamu jangan kegeeran dulu yu, jangan terus tebang gara-gara tau aku nulis surat cinta buat kamu nanti atap rumahnya jebol -_-

Oke, akan aku jelaskan disini, sebenernya aku itu gak suka-suka banget sama kamu, tapi karena pas SD temen-temen kita selalu ngeledekin kita, lama-kelamaan bunga-bunga merah jambu itu mulai tumbuh. sssssaaahhh aku sekarang jadi agak puitis nih. hehehe.

Kamu kan tau sendiri kalo suku kata terakhir dari nama belakang kita itu sama, jadi kalo temen-temen manggil dengan suku kata terakhir itu, pasti kita berdua sama-sama nengok. Nengoknya itu barengan lagi, kaya yang di pilem-pilem itu ting, lucu ya.Trus, dari situ mereka suka iseng manggil-manggil, pas aku nengok eh dengan muka sok lugunya mereka bilang "yeee aku gak manggil kamu kok" trus gitu juga sebaliknya. Kamu nengok dan mereka bilang kalo mereka manggil aku. Hih, anak-anak SD ini memang ngeselin ya, kecuali aku :D Dari situ ting, mereka suka jodoh-jodohin kita, kamu tau sendirilah gimana gaya ledek-meledeknya anak SD, gak akan berenti kalo sasarannya belum nangis. Nah, masalahnya itu ting, aku gak pernah nangis. malah kadang cuma ketawa-ketawa gak jelas. Dan teman-teman kita semakin menjadi. Kamu inget gak waktu SD ada singkatan 'CSI' kepanjangannya kamu pasti tau juga, 'Calon Suami Istri'. Huaaa apa-apaan itu, anak SD kok tau Suami-Istri. Nah itu, dulu mereka suka nulis-nulis gitu di berbagai buku sampe pernah juga ditulis dipapan tulis. Tapi aku tetep BIASA AJA. Gak ada reaksi. Nah dari situ ting, Kelamaan diledekin kan pasti kepikiran juga. Dan setelah itu kemudian rasa-rasa itu mulai bermunculan. huahahahaha. Cinta monyet semonyet monyetnya. Itu kita masih sekitar kelas 2 atau 3 SD loh, bener-bener gak wajar.

Tapi, karena aku malu jadi aku stay cool aja. Temen mau geledekin kaya apa juga aku cuma cengar-cengir, mesam-mesem gak jelas. Kamu jangan Geer dulu ting, itu cuma cinta-cintaannya anak SD. Ah, aku selalu pingin ketawa kalo inget kelakuan waktu SD dulu.

Eh, tapi aku tau loh kalo dulu kamu pernah suka sama aku. Hahahaha, jangan sok gak ngaku deh ting, waktu itu kita kelas 4 SD, terus di buku kamu ada nama aku trus ada puisinya gitu, waktu aku tanya, kamu bilang itu tulisan kakak kamu, walaupun aku ini masih kecil, masih lugu dan masih imut, tapi aku ini gak gampang ke tipu. Aku tau itu tulisan kamu, secara tulisan kamu itu seguede-guede gajah dan berantakannya amit-amit. waaa frontal banget ya. Hahhaha maap ting, maap :D Sekarang udah berubah belum tulisannya? Pasti udah kan? Udah punya pacar banyak masa tulisan aja belum berubah. (loh apa hubungannya??)

Setelah aku amati kok surat 'cinta'nya ini semakin gak jelas ya ting. Tapi ya sudahlah namanya juga lagi tahap pembelajaran.

Btw, kamu sekarang kuliah dimana? kok gak pernah ada kabar? Kalo kamu punya twitter pasti kamu aku mention buat baca surat ini, tapi berhubung kamu gak punya twitter kamu bacanya kapan-kapan aja ya, Kalo kamu main-main di blog aku. hihihihi.

Dari siunyu yang semakin hari semakin unyu.

#30harimenulissuratcinta
hari ke-18

Rabu, 25 Januari 2012

Terimakasih untuk masa kanak-kanak yang indah

0 comments
Hari ini Bandar Lampung cerah berawan. Sudah sering ku bilang, kalau cuaca juga bisa galau. Pagi cerah langit biru, lalu sorenya hujan angin menyapu seluruh jalan. Tetapi tidak masalah untukku yang sedang menikamati masa hibernasi. Berdiam diri didalam rumah tentu jauh menyenangkan.

Omong-omong tentang hujan, aku punya banyak cerita dengan dan tentang hujan. Pada dasarnya aku suka bau tanah sehabis hujan. Itu seolah mengingatkanku tentang seseorang yang menempati tempat khusus dihatiku. Hari ini, ku tulis surat khusus untuknya.

***

Teruntuk seseorang yang selalu mengisi hari kanak-kanakku.

Nenek, apa kabar? Sudah 10 tahun kita tak berjumpa. Nenek, apa kau merindukan aku seperti aku merindukanmu?
Nenek,  setiap hujan aku selalu teringat tentang dongeng-dongeng masa kecilku yang selalu kau bacakan sebelum tidur. Nenek, 10 tahun terakhir ini, apa kau merasa bahagia disana?

Aku ingat bagaimana pertemuan terakhir kita berakhir menyedihkan. Nenek, saat itu aku tidak mengangis, bukan karena aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Saat itu aku mengingat semua yang pernah kau katakan padaku dulu "Jangan menangis hanya karena kau kehilangan seseorang. Masih banyak orang yang tidak mau kehilangan dirimu". Nenek, kau benar-benar orang tua yang hebat.

Saat kaki dan tangan kananmu tak mampu digerakkan karena stroke, kau masih mampu memasak sarapan pagi untukku. Walau kamu tahu, aku lebih sering tidak memakannya karena terburu-buru, tapi kau masih bandel dan bersikeras untuk terus memasak.
Aku masih ingat saat pertama kali aku mencuci piring. Waktu itu aku memecahkan gelas, dan kau bilang "tidak apa-apa, tidak ada yang sempurna pada kesempatan pertama".

Nenek, saat kau pergi menghadap sang kuasa, aku memang tidak mengangis bahkan sampai jasadmu tertimbun tanah, tetapi kau harus tahu kalau selama berbulan-bulan aku berusaha menahan tangisku agar tidak pecah.
Apalagi, saat pulang sekolah, tak ada satu orangpun dirumah dan aku terpaksa menunggu diteras sampai ibu pulang. Saat itu rasanya aku ingin mengangis sekencang-kencangnya. Biasanya, saat pulang sekolah aku melihatmu duduk diteras sambil tertawa menyapa orang-orang yang lewat, tetapi setelah kau pergi aku yang duduk dikursi teras itu menunggu ibu pulang. Kau tahu, saat itu aku baru merasa sangat kehilangan dirimu.

Nenek, tahukah kamu, bertahun-tahun setelah itu perlahan aku mulai melupakanmu, ah aku merasa seperti cucu yang durhaka. Aku bahkan seolah tak ingin mengingatmu. Tapi nek, 10 tahun berlalu, walau aku kadang melupakanmu, bukan itu maksudku. Walau tak pernah terlihat sebenarnya aku selalu merindukanmu. Aku menyayangimu. Benar-benar menyayangimu.

Nenek, aku selalu berdoa kau mendapat tempat yang layak disisinya. Nenek, sekarang aku bukan gadis kecil yang suka merengek meminta uang jajan tambahan darimu. Aku sudah 18 tahun sekarang. Nenek seperti harapanmu dulu, dan sesuai dengan arti namaku yang kau berikan padaku, aku akan berusaha menjadi orang yang bermanfaat. Setidaknya aku tidak lagi merepotkan banyak orang. Nenek, terimakasih telah menjadi sosok penting dalam hari kanak-kanakku.

#30harimenulissuratcinta
Hari ke-13
-aymagochi-

Sebuah surat dari langit senja itu

0 comments
Diufuk barat mentari perlahan pergi. Teriring senja, merah mentari masih tersisa. Langit merekah bagai tak mau kehilangan mahkota.

Sungguh indah pemandangan senja itu. Senyumku bahkan tak mau pergi. Bukan hanya karna mentari, tetapi juga karna ada kamu di depanku.

Kamu yg sejak hari itu memenuhi pikiranku. Melihatmu tersenyum dan tertawa lepas membuat aku tak bisa berkata apa-apa. Speechless, kalau kata orang barat bilang.

Aku bahkan tak mampu menatap matamu saat kamu berbicara padaku, kamu tahu kenapa? Karna aku takut kamu bisa membaca pikiranku. Bukankah, mata tak bisa berbohong? Aku tidak tau pasti apa yg terjadi denganku. Aku bahkan tak ingin memastikannya. Aku bahkan terlalu takut untuk sekedar mengakuinya.

Terekam jelas saat pertama kali aku melihatmu. Kamu tahu, saat itu aku benar-benar tak tahu apa yang terjadi padaku.Melihatmu, membuat waktu seolah berhenti, melihatmu aku seperti melihat seseorang yang sudah lama aku cari.

Dari sudut strategis itu aku pertama kali melihatmu. Aku lupa tanggal berapa. Seingatku hari itu, hari terpenting dalam sejarah kehidupanku. Tidak perlu aku perjelas. Karna aku tidak ingin membuatnya menjadi jelas.

Aku melihatmu sekilas. Saat itu aku sedang terdiam. Memikirkan 'apakah ini memang tempat terbaik untukku?'
aku tidak begitu memperhatikan sosok di dekatku. Aku bahkan hanya tersenyum simpul sambil menyebutkan namaku kepada semua orang yg baru kukenal saat itu.
Dari sudut mataku aku melihatmu. Kamu tidak terlalu tampan, kamu biasa-biasa saja. Andhika Pratama bahkan jauh lebih tampan menurut kacamataku saat itu. Tapi, entah mengapa kehadiranmu saat itu benar-benar mengalihkan perhatianku. Sesekali aku mencuri pandang, mencuri dengar apa yang sedang kau bicarakan. kau tahu, aku bahkan tak pernah seperti itu sebelumnya. ah, kau benar-benar membuatku berbeda. Ada secercah harapan kecil saat itu, berharap kau mengulurkan tanganmu kepadaku dan menyebutkan siapa namamu. tapi kau tidak melakukan itu. Kamu tahu, aku sedikit kecewa. Setidaknya semua orang disini berebut memperkenalkan diri, seolah akulah presiden amerika yang baru mendarat di Indonesia. Kamu berbeda, Dan kamu benar-benar membuatku berbeda.

Kamu tahu, hari itu aku mencari tahu siapa namamu, aku tidak bertanya kepada siapapun tentang identitasmu. Aku tahu namamu dari daftar nama yang harus aku tandatangani. Kamu tahu, aku tersenyum kecil saat tahu siapa namamu. Ah, bahagia itu sungguh sederhana.


Sejak saat itu, bayang-bayangmu terus berputar mewarnai hari-hariku. Kamu tahu, setiap aku melihat bayanganmu secara spontan aku langsung menoleh, seakan sensor motorikku peka dengan kehadiranmu.

Dan malam ini, saat memori otakku berputar kemasa-masa itu, aku merasa ada sesuatu yang salah denganku. Banyak kata-kata berputar diseluruh kepalaku, tapi tak ada satu katapun yg mampu terucap.Semuanya, masih tentang kamu. Kamu yg tersenyum di senja yg indah itu. Ah, kenapa masih wajahmu yg memenuhi kepalaku, bukan wajah Lee min hoo atau Taylor Lautner saja? Jelas-jelas mereka lebih tampan dari kamu.Tetapi, kenapa harus kamu?

Semakin aku bertanya semakin aku tak mampu berkata-kata.
Kata afgan, wajahmu mengalihkan duniaku.
Ahhhh apa-apaan ini. Wajahmu bahkan menghiasi mimpiku. Aku benar-benar hampir gila.

Saat berpapasan kita bahkan tak saling menyapa.
Walaupun aku ingin sekali tersenyum untuk sekedar bilang 'selamat pagi', tapi semakin aku ingin menyapa, semakin mulut ini terkunci. Ah semua ini benar benar membuatku hampir gila. Dan kamu penyebab utamanya. 

Untukmu, seseorang yang selalu aku ingat dikala senja dan kala malam menjelang, aku terlalu malu untuk berterus terang padamu, aku juga sudah bilang kalau aku juga terlalu malu untuk menyapamu, aku tulis surat ini untukmu, walau aku tahu kamu tak akan pernah membacanya, tetapi setidaknya aku pernah menulis surat untukmu. Surat yang mungkin tak akan pernah tersampaikan. Demi senja yang indah ini, aku mengagumimu
 tanpa ada alasan tertentu.

gambar dari sini


#30harimenulissuratcinta
-Aymagochi-